Tampilkan postingan dengan label Rafflesia ruchusenii. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rafflesia ruchusenii. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Maret 2008

Rafflesia Rochussenii

Rafflesia Rochussenii

Rafflesia rochussenii oleh sebagian ilmuan pernah dianggap telah punah, karena sudah lama tidak ditemukan lagi (publikasi terakhir tahun 1941 oleh Van Stenis). Namun pada bulan Juni 1990, berhasil ditemukan kembali dalam bentuk bunga mekar sempurna oleh Lawalata IPB di Gunung Salak pada ketinggian 1.350 m dpl.



Temuan tersebut ditindak lanjuti dengan penelitian dari bulan Agustus 1990 hingga bulan Januari 1991. dari hasil pengamatan dapat diduga bahwa usia siklus hidup Rafflesia rochussenii 2,5 tahun dengan rincian : kuncup pertama sampai bunga mekar 739 hari, bunga mulai mekar hingga mekar sempurna 35 hari, bunga mekar hingga layu 7 hari, bunga layu hingga biji masak 133 hari (Zuhud, et al., 1994).



Pertumbuhan rata–rata kuncup Rafflesia rochussenii adalah 0,017 cm per hari, namun sebenarnya pertumbuhan itu tidak selalu sama pada tiap individu kuncup, begitu juga pertumbuhan itu tidak konstan, semakin besar kuncup maka laju pertumbuhan diameternya semakin lambat. Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa satu batang Tetrastigma lanceolarium ditumbuhi berkisar 0 – 18 individu Rafflesia rochussenii dan tumbuh pada akar dengan diameter 0,5 – 2,5 cm yaitu akar yang tersebar banyak dilapisan tanah teratas, sehingga lebih banyak kemungkinan bagi biji Rafflesia rochussenii terinfeksi ke jaringan perakaran Tetrastigma lanceolarium (Zuhud et al, 1994)



Rafflesia rochussenii diduga termasuk salah satu jenis Rafflesia yang terlangka. Diantara 3 jenis Rafflesia yang ditemukan di Jawa yang inilah yang jarang diberitakan. Bunganya berwarna merah tua sampai ungu kecoklatan dengan bintil–bintil kecil dipermukaan atas permukaan atas perhiasan bunganya. Ketika mekar penuh dimater bunganya antara 14 – 30 cm. puncak poros bunganya mendatar seperti piring dengan atau tanpa tepian yang menarik perlahan. Cuatan bunga pada diskus tidak ada, jika ada hanya berkisar antara 1 – 8 buah berbentuk seperti kerucut lebar setinggi 3 – 7 mm. bau busuk hampir tidak tercium dari bunganya.



Kondisi ekologis dari Rafflesia rochussenii dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Jenis tanah cenderung memiliki konsistensi tanah lunak dan gembur, tidak terlalu lembab dan suhu rata–rata 20 ˚C. pH tanah masam hingga agak masam; kandungan unsur N dan C tanah relatif tinggi sedangkan kandungan P. Ca dan Mg tanah relatif rendah,. Serat kandungan K dan Na relatif sedang.



Vegetasi paling dominan untuk tingkat pohon pada habitat Rafflesia rochussenii adalah Altingia excelsa, Schima wallichii, sedangkan untuk tumbuhan bahwa didominasi oleh Cycas rumphii.



Hewan penyerbuk pada Rafflesia rochussenii yang sedang mekar diduga spesies lalat hijau (Lucilia sp), lalat abu–abu (Sarcophaga sp dan lalat buah (Drosophila melanogaster). Selain lalat ditemukan pula semut merah dan hitam yang termasuk ke dalam organ bunga. Hewan penyebar biji diduga dari spesies hewan berkuku seperti landak (Histix brachyura), tupai (Tupaia glis), babi hutan (Sus scfofa), lunak (Paraxurus hermaproditus) dan dari spesies serangga, seperti rayap tanah (Macrotermes sp) dan semut (Polyergus sp).



Ancaman kelestarian dari Rafflesia rochussenii berdasarkan pengamatan, faktor yang utama adalah faktor manusia yaitu terjadinya kerusakan habitat dan matinya tumbuhan inang, akibat adanya penebangan dan penyaradan kayu curian oleh masyarakat dan lebih parah lagi ada populasi kuncup Rafflesia rochussenii yang mati akibat kegiatan ini. Untuk kelesatarian spesies yang sangat langka ini, maka kawasan ini mutlak dilindungi, sebagai kawasan Suaka Alam Flora Langka Rafflesia rochussenii (Zuhud et al., 1994)

Photo Of Rafflesia Rochussenii

Rafflesia rochussenii Teijsm. & Binnend.


The following two photographs were presented in an article by Harry Wiriadinata (email: herbogor@indo.net.id) and Suwito Alamin "Voice of Nature" (ISSN No 0216-4177) Vol.84, Aug. 1990, page 14. The two photos below were taken on Mt. Salak, Western Java, near Bogor, June 6, 1990 (by a Javanese student).

This flower (past prime) was photographed by Harry Wiriadinata (Herbarium Bogoriense, Indonesia). The photograph was donated by Anna Marika Bendiksby.


SIUC / College of Science / Parasitic Plant Connection / Rafflesiaceae
URL: http://www.parasiticplants.siu.edu/Rafflesiaceae/Raff.roch.page.html
Last updated:20-Jun-06 / dln

Kamis, 20 Maret 2008

DETIK-DETIK KEPUNAHAN RAFFLESIA

Terancamnya Rafflesia ruchusenii

Date: Fri, 07 Apr 2000 13:18:21 +0700
From: "eksplonus@..." <eksplonus@...>
Subject: [Lingk] Terancamnya Rafflesia ruchusenii
:

Assalamualaikum wr wb


DETIK-DETIK KEPUNAHAN RAFFLESIA
DI KAWASAN TAMAN NASIONAL GEDE-PANGRANGO

Banyak hal yang menarik dalam kehidupan liar di alam bebas, mahluk hidup
bisa menarik karena kelangkaannya, walaupun belum tentu menarik dari
'kegunaannya'. Dan kelangkaan bisa menarik karena hal unik dari kenampakan
maupun sifat hidupnya. Lebih menarik dari itu semua karena publikasi
sebelumnya. Begitu juga yang terjadi dengan Rafflesia. Rafflesia sangat
menarik karena kekhasannya, langkanya, dan publikasi yang mengikuti
keberadaannya, tetapi lebih dalam dari itu tentunya nilai bagi ilmu
pengetahuan.
Bila dirunut publikasi keberadaan Rafflesia, jauh sebelum kita punya
ahli-ahli botani dan konservasi alam orang-orang Belanda telah meneliti
'bunga' ini. Apa yang menarik dari benda ini saat itu tidak diketahui
dengan pasti tapi kemungkinan besar karena alasan-alasan diatas.
Taman Nasional Gede-Pangrango (TNGP), yang terletak di Propinsi Jawa Barat
tepatnya di tiga kabupaten (Bogor, Cianjur, dan Sukabumi) telah menjadi
obyek penelitian khususnya untuk Rafflesia sejak jaman Belanda. Terakhir
keberadaan Rafflesia di TNGP dipublikasikan secara resmi tahun 1941 (Van
Steenis). Setelah itu Tim Azimuth (mahasiswa jurusan Tanah IPB) secara
tidak sengaja menemukan kembali "mutiara yang hilang" tersebut di site I
sekitar bulan November 1992 (sempat dipublikasikan di Majalah Mutiara).
Semenjak itu Tim tersebut terus-menerus memantau dan melakukan penelitian
ilmiah mengenai Rafflesia ini. Dan hasilnya telah diekspose tahun lalu
tepatnya tanggal 4-5 Mei 1999 di kampus IPB Baranangsiang, Bogor serta
dilanjutkan di Balai Sidang Senayan Jakarta tanggal Juni 1999. Belum
rampung untuk species pertama (Rafflesia rochusenii), Tim Alumni Azimuth
(saat ini tengah aktif berkecimpung di LSM lingkungan Eksplorasi Nusantara
-EKSPLONUS) pada tanggal 19 Maret 1999 telah menemukan kembali di tempat II
'spesies baru' yang kemungkinan besar belum pernah dipublikasikan dan
dikaji sebelumnya oleh para ahli Botani dari Belanda, apalagi dari
Indonesia. Dan sekali lagi, sebelum melakukan kajian secara mendalam
terhadap Rafflesia di dua lokasi tersebut, Tim Ekspedisi Rafflesia
Mandalawangi yang merupakan kolaborasi bersama Eksplorasi Nusantara dengan
Azimuth IPB telah menemukan lagi spesies bunga cantik di site III tanggal
12 November 1999. Kesimpulan awal terhadap penemuan-penemuan bunga cantik
nan-langka tersebut adalah kawasan TNGP yang bertempat di sekitar daerah
administrasi Desa Bojongmurni merupakan rumah idaman bagi tumbuh dan
berkembangnya keluarga Rafflesia.
Di dunia setidaknya dikenal 17 spesies Rafflesia yang semuanya sangat
langka. Dan beruntung 12 spesies diantaranya terdapat di belantara tropis
Indonesia. Dari ke dua belas tersebut khusus Rafflesia arnoldii mendapat
kehormatan dilirik, dikaji dan dilindungi oleh berbagai pihak seperti para
pecinta bunga langka, kelompok pecinta alam, peneliti dan bahkan pihak yang
berwenang di bawah naungan DepHutBun. Hal ini wajar mengingat bunga
tersebut mempunyai karakteristik tersendiri dengan bentuknya yang super
besar (40-150cm) dan di saat mekar sempurna menjadikan daya tarik yang
sangat menakjubkan.
Kaitannya dengan keluarga Rafflesia di kawasan TNGP, analisa sementara
bunga yang baru ditemukan kemungkinan besar satu famili dengan R.
rochusenii (Rafflesiaceae). Berdasarkan morfologinya Rafflesiaceae
mempunyai 8 marga (genus) tiga diantaranya Rafflesia, Rhizanthes, dan
Sapria berada di daerah tropik Indo-Malaya (Kuijt, 1969). Ketiga genus ini
semuanya termasuk ke dalam kategori sangat langka. Habitatnya semakin
terancam, apalagi di pulau Jawa para perambah hutan di kawasan cagar alam
(legal maupun tidak legal) seringkali terjadi.
Apakah demikian kenyataannya........??. Sungguh merupakan hal yang
ironis, ketika semua pihak terlena dengan terlalu seringnya membicarakan
permasalahan politik dan ekonomi negara, tidak ada satu pun pihak (termasuk
pihak yang berkompeten DepHutBun, Lembaga Peneliti, maupun Lembaga Donatur
yang berlabel Biodiversity dan lainnya) yang membantu kesendirian kami akan
kepedulian terhadap kelestarian keluarga Rafflesia di kawasan TNGP. Catatan
terakhir dalam bentuk dokumentasi video (V8) Tim Ekspedisi Rafflesia
Mandalawangi tanggal 11-13 Maret 2000 menunjukkan site I dan site III telah
terjadi kerusakan habitat Rafflesia dan tentunya detik-detik kepunahan
Rafflesia mulai terdengar sebagai akibat ulah para perambah hutan dan
pengunjung petualang alam "gurem" di kawasan TNGP.
Apakah yang menyebabkan keluarga Rafflesia begitu terancam ...??. Dari
hasil kajian sementara dapat ketahui beberapa faktor penyebab baik langsung
maupun tidak langsung yang sangat mempengaruhi kelestarian Rafflesia.
Faktor penyebab secara langsung adalah:
1. Tidak adanya mekanisme pengawasan dan pengontrolan terhadap berbagai
kegiatan di dalam kawasan TNGP.
2. Aturan yang telah dikeluarkan oleh pihak TNGP (Bab V tentang Pengelolaan
Hutan pasal 24, UU Kehutanan No. 41 tahun 1999) tidak
terimplementasi dengan baik, sshingga para perambah hutan dengan santainya
menebang pohon di dalam kawasan TNGP tanpa ada rasa "beban" sedikitpun.
3. Tidak adanya ketegasan dalam hal pemberian sangsi dari pihak TNGP
terhadap pelaku pelanggaran perambah hutan.
4. Tidak adanya tanggung jawab dari pihak pengelola TNGP di dalam
pelaksanaan tugasnya. Hal ini ditandai dengan kondisi Pos Jagawana
di Desa Bojongmurni yang tidak terawat dan tidak berpenghuni.
5. Tidak ada koordinasi yang baik dari pihak TNGP dengan "penguasa" Desa
Bojongmurni mengenai penyadaran dan kepedulian masyarakat terhadap
kelestarian alam.
6. Jarak site keluarga Rafflesia yang relatif dekat dengan batas lahan
pertanian (± 500 m) dan dari pusat pemukiman penduduk desa (± 3 Km).

Sedangkan faktor penunjang (tidak langsung) akan keterancaman dan kepunahan
Rafflesia adalah:
1. Semakin bertambahnya penduduk desa yang menuntut peningkatan kebutuhan
papan yang memadai.
2. Masih adanya masyarakat yang masih bergantung pada sumber energi yang
berasal dari kayu bakar.
3. Tingkat pendidikan yang relatif rendah sehingga dapat mempengaruhi pola
pikir yang berkenaan dengan fungsi dan peran kawasan Taman
Nasional.
4. Sebagian besar kehidupan masyarakat bermatapencahariannya sebagai petani
maupun buruh tani. Hal ini dimungkinkan pada musim-musim tertentu
alternatif matapencaharian mereka bergantung pada kekayaan alam di
kawasan TNGP.
Dari beberapa permasalahan diatas cukup jelas bahwa urusan kelestarian
Rafflesia begitu kompleks. Berita "duka" yang dialami oleh keluarga
Rafflesia tentunya harus mendapat perhatian serius dari berbagai pihak
khususnya media cetak maupun elektronik. Setidaknya peran serta
rekan-rekan di media massa memberikan kontribusi yang sangat menentukan
menjaga "kekayaan" alam Indonesia, minimal membangunkan dari tidur lelap
pihak-pihak yang berkompeten. Dan kami konfirmasikan pada saat ini di
lokasi kerusakan habitat Rafflesia masih ada dua bakal bunga yang
diperkirakan salah satunya berbunga sempurna pada tanggal 18 Maret 2000.
Bagaimanapun juga perjuangan kami selama ini tentunya memiliki kelemahan
dan keterbatasan. Untuk yang ketiga kalinya, Tim Rafflesia Mandalawangi
mengharapkan perhatian dan bantuan dari pihak-pihak lain, terutama
Departemen Kehutanan dan Perkebunan pada ketertarikan kami akan Rafflesia,
umumnya pada kecintaan kami akan kelestarian sumberdaya hayati di
Indonesia. Hal ini kami rasakan masalahnya pada studi ilmiah spesies
pertama pun belum adanya 'sentuhan' yang sangat membantu dari pihak yang
berkompeten tersebut. Dan adalah hal wajar jika kami sampai
tersendat-sendat melakukan kajian swadaya selama tujuh tahun. Walaupun
demikian, kami tidak rela apabila Rafflesia di Mandalawangi mengalami
kepunahan seperti yang di alami Rafflesia jenis yang sama ditemukan oleh PA
Lawalata -IPB di kawasan Gunung Salak, Bogor. Akhirnya kami berkesimpulan
sebetulnya sedikit saja masalahnya, alasan 'kecintaannya' pada alam yang
berbeda. Kami mengkaji hutan mengeluarkan uang tapi Beliau-Beliau turun
ke lapang menghasilkan uang...!!

Hormat Kami,
Eksplorasi Nusantara
---------------------------------------------------------
Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik:
http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/



http://groups.yahoo.com/group/berita-lingkungan/message/267

 

Template Design By:
SkinCorner/laudean